Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh, Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Kontak Person: Romo Ign. Slamet Riyanto, Pr Pastoran SPM Tak Bernoda Nanggulan Karang, Jatisarono, Nanggulan, Kulon Progo Phone: 0857 4371 7676 Anda ingin berpartisipasi dalam pembangunan Gua Maria Lawangsih? Doa dan partisipasi Anda akan membuat semakin banyak umat mengenal Allah, dekat dengan Allah melalui Maria. Berkah Dalem Gusti tansah amberkahi

Berita dan Info

Negara kita masih dalam suasana krisis di berbagai bidang kehidupan berkepanjangan. Usaha untuk mengatasi krisis dengan dan melalui berbagai cara dirasakan oleh banyak orang belum terjadi perubahan apa-apa, bahkan ada yang mengatakan bahwa krisis semakin merajalela. Salah satu bentuk krisis yang memprihatinkan adalah krisis keteladanan atau kesaksian hidup beriman. Teladan berarti sesuatu yang baik berhubungan dengan perilaku atau tindakan/’cara bertindak’ dari atasan/pemimpin atau yang merasa di atas atau memimpin dan orangtua/merasa yang dituakan, yang dapat ditiru atau diikuti oleh bawahan atau anggota dan anak-anak/yang muda. Keteladanan atau kesaksian merupakan cara terbaik dalam rangka pembinaan atau pendidikan serta pewartaan atau tugas perutusan. “Kesaksian hidup Kristen merupakan bentuk tugas perutusan yang pertama dan tiada tergantikan” (Yohanes Paulus II: Ensiklik “Redemptoris Missio”, 7 Desember 1990, no 42).

Gereja melintasi lorong yang telah dilalui oleh Perawan Maria
Tempat-tempat peziarahan untuk berdevosi kepada Bunda Maria senantiasa dibanjiri umat, apalagi di bulan Mei atau Oktober. Dengan berziarah iman umatpun merasa disegarkan, digairahkan dan diteguhkan. Dalam kegiatan doa-doa lingkungan untuk berbagai macam kepentingan atau ujud ‘doa rosario’ tidak pernah ketinggalan, bahkan umat-umat di pedesaan memanfaatkan waktu sebelum perayaan ekaristi mendaraskan doa rosario secara pribadi. Devosi kepada Bunda Maria memang merupakan salah satu jalan atau cara untuk mendekatkan umat/orang pada Tuhan. Dari berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungan umat beriman tersebut kiranya semakin meneguhkan keyakinan atau ajaran bahwa “Gereja melintasi lorong yang telah dilalui oleh Perawan Maria”.
Lorong adalah jalan, sarana yang memperlancar komunikasi antar pribadi; lorong menghubungkan tempat satu ke tempat yang lain. Bunda Maria, teladan umat beriman, telah menelusuri lorong yang membawanya menuju ke kebahagiaan atau keselamatan. Lorong-lorong yang telah dilalui oleh Bunda Maria itulah yang juga harus kita lalui jika kita menghendaki kebahagiaan dan keselamatan sejati. Kita dapat mengenali dan mengikuti lorong-lorong tersebut sebagaimana diwartakan oleh Penginjil/Pewarta Kabar Gembira.

I. PADA AWALNYA ADALAH SEBUAH PANGGILAN ALLAH

"Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” (Luk 1:30)

Maria adalah gadis desa, hidup sederhana dan memperoleh asuhan atau didikan dari orangtuanya secara memadai, lebih-lebih dalam hal hidup keagamaan atau keimanan. Dalam asuhan atau didikan yang demikian itu kiranya hati Maria penuh harap akan kedatangan Sang Penyelamat/Mesias, yang didambakan oleh banyak orang. Ia memiliki apa yang disebut dambaan suci, yang mendambakan kesucian atau persembahan total kepada Tuhan. Maka layaklah sapaan malaekat kepadanya sebagai yang ‘beroleh kasih karunia di hadapan Allah’. Dalam dan melalui Maria kasih karunia itu bukan hanya impian atau ilusi belaka tetapi akan menjadi nyata: kasih karunia Allah yang tidak lain adalah Penyelamat Dunia/Mesias akan ‘dikandung dan dilahirkan’ oleh Maria. "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus” (Luk1:30-31), demikian warta gembira atau kasih karunia bagi Maria.
“Beroleh kasih karunia” memang membahagiakan sekaligus penuh tantangan dan hambatan. Para gadis atau remaja putri kiranya dapat membayangkan atau mawas diri apa yang terjadi jika tanpa suami atau belum berkeluarga hamil karena pergaulan bebas, apa reaksi teman-teman maupun orangtua. Saya yakin anda pasti akan dicibir, menjadi buah bibir, dilecehkan; kemarahan besar dapat terjadi pada orangtua anda, bahkan ada orangtua yang mengusir anak gadisnya ketika diketahui hamil di luar nikah atau akibat pergaulan bebas. Jika tidak diusir paling tidak diasingkan, entah harus berdiam diri di rumah tidak boleh pergi ke mana-mana atau dititipkan pada sanak saudara nun jauh di sana. Secara manusiawi kiranya Maria mengalami bayangan masa depan yang berat semacam itu, ketika ia harus mengandung dari atau oleh Roh Kudus; kiranya ada rasa ketakutan besar dalam diri Maria.
“Kasih karunia Allah” memang istimewa dan sekaligus memanggil orang yang memperoleh kasih karunia untuk hidup ‘melawan arus’, di mana arus kehidupan pada umumnya jauh dari kasih Allah, sebagaimana terjadi di masyarakat kita masa kini yang masih diwarnai oleh aneka kemerosotan moral hampir di semua bidang kehidupan. Memperoleh ‘kasih karunia Allah’ orang tidak mungkin hidup atau bertindak menurut keinginan atau kehendak sendiri, melainkan harus mendengarkan, merenungkan dan melaksanakan kehendak atau panggilan Allah. Yang ‘beroleh kasih karunia Allah’ cara hidupnya harus saling kasih-mengasihi. Apa itu kasih? “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu “ (1Kor 13:4-7). Atau orang yang ‘beroleh kasih karunia Allah’, sebagaimana Maria mengandung oleh karena Roh Kudus, ia akan hidup dijiwai oleh Roh Kudus dan dengan demikian cara hidup atau cara bertindaknya menghasilkan buah-buah Roh, yaitu: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri “ (Gal 5:22-23). Bukankah beroleh kasih karunia Allah yang berarti hidup saling mengasihi atau dijiwai oleh Roh Kudus dengan menghayati keutamaan-keutamaan di atas merupakan tantangan yang sungguh berat?

II. RESIKO DAN KONSEKWENSI JAWABAN “YA”

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-mu itu.” (Luk1:38)

Maria tidak mundur atau melarikan diri menjauhi panggilan Tuhan yang penuh tantangan serta butuh pengorbanan tersebut. Dengan penuh penyerahan diri ia menanggapi panggilan Tuhan :” Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Tanggapan Maria atas panggilan Tuhan ini telah menjadi inspirasi serta kharisma berbagai macam paguyuban hidup di dalam Gereja, entah hidup membiara atau kelompok-kelompok gerakan kaum awam. Maka baiklah kita juga berani menjadikan tanggapan Maria tersebut menjadi pegangan atau jiwa penghayatan hidup maupun pelayanan/kerasulan kita.
Pertama-tama marilah kita refleksikan jiwa ‘hamba’ atau pelayan atau dalam bahasa sehari-hari dalam rumah tangga disebut ‘pembantu rumah tangga’/PRT. Mereka yang disebut hamba, pelayan atau PRT yang baik pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: kerja keras, selalu siap siaga, datang lebih awal pulang lebih kemudian, sehat, senantiasa melayani dengan gembira atau senyuman, balas jasa/honor pas-pasan kalau tidak boleh dikatakan kurang dst…, ‘the last not the least’ seorang pelayan yang baik senantiasa harus dapat membahagiakan mereka yang dilayani. Jika ciri-ciri tersebut kurang memadai pada seorang pelayan ia tidak layak disebut pelayan dan siap utuk di PHK tanpa pesangon. Meneladan Maria yang menyatakan diri sebagai ‘hamba Tuhan’ yang berarti juga ‘hamba semua orang’, kiranya ciri-ciri tersebut harus ada dalam diri kita terutama cara bertindak atau bekerja yang membahagiakan siapapun tanpa pandang bulu, tanpa membeda-bedakan orang (SARA, usia, pangkat/kedudukan/jabatan, kaya/miskin dst..) serta hidup sederhana tidak berfoya-foya atau menghambur-hamburkan uang atau harta.
Selanjutnya kita dapat meneruskan refleksi perihal semangat pelayanan yaitu senantiasa bersikap “jadilah padaku menurut perkataanmu itu” alias menghayati keutamaan ketaatan. Ketaatan rasanya merupakan keutamaan yang mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan pada masa kini. Erat kaitannya dengan ketaatan adalah kerendahan hati, yang berarti orang senantiasa terbuka, siap sedia untuk di…(diperintah, diutus, dilecehkan/direndahkan dst..). Dalam bahasa sehari-hari masa kini bentuk penghayatan ketaatan dan kerendahan hati antara lain tidak mengeluh jika harus menghadapi atau melaksanakan tugas yang tidak sesuai dengan selera pribadi. Taat dan rendah hati memang mengandaikan keberanian dan kerelaan untuk meninggalkan egoisme atau cinta diri yang berlebih-lebihan. Dalam hal ketaatan ini kiranya kita juga dapat mawas diri dengan apa yang dikatakan oleh Paulus : “Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil ; 2:3-8)
Satu hal yang layak kita renungkan untuk masa kini terkait dengan kutipan di atas adalah ‘tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan’. Masa kini banyak orang menyombongkan diri dengan aneka pangkat, ijasah, kedudukan atau jabatan yang dimiliki, padahal semuanya itu adalah bukan usahanya sendiri melainkan karena bantuan dan dukungan atau anugerah Allah melalui sesama kita yang baik hati. “Everything is given”, begitulah kata sebuah pepatah. Maka marilah kita tidak menyombongkan diri dengan aneka ‘kekayaan’ yang kita miliki, melainkan berterima kasih dan bersyukur atas semuanya itu. Ingat pepatah Jawa “batang padi yang berisi semakin menunduk, sebaliknya yang tidak berisi menengadah”. Semakin tua, berpengalaman, berkedudukan, terampil, cerdas dst…harusnya semakin rendah hati bukan semakin sombong. Untuk itu marilah kita renungkan dan refleksikan pernyataan, yang senantiasa diucapkan dan dicoba untuk dihayati, dari para gembala kita (Uskup dan Paus) yang menyatakan diri sebagai ‘Hamba yang hina dina’ dan ‘Hamba dari para hamba yang hina dina’.

III. MAKNA PERJUMPAAN DAN BERKAT

Maria mengunjungi Elisabeth dan memberi salam kepadanya.

Orang yang bergembira pada umumnya senantiasa ingin mewartakan kegembiraan yang ada kepada sesama, rekan dan sahabat-sahabatnya. Sebaliknya ketika orang mendengar berita bahwa saudara atau sahabatnya mengalami kegembiraan maka ia akan segera, bergegas untuk memberi ucapan selamat kepada saudara atau sahabatnya tersebut. Maria setelah menerima kabar gembira serta mendengar kabar gembira saudarinya, Elisabeth, ia bergegas ‘mengunjungi Elisabeth dan memberi salam kepadanya’.
Cukup menarik untuk direfleksikan kisah kunjungan Maria kepada Elisabeth ini. Keduanya dalah perempuan-perempuan yang mengandung karena dan oleh Roh Kudus, di dalam rahimnya tumbuh dan berkembang ‘kasih karunia Allah’; keduanya penuh dengan Roh Kudus. Ketika Maria memberi salam, ucapan selamat kepada Elisabeth, maka Elisabeth pun berseru: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk1:42-25). Dua perempuan bersaudara yang penuh Roh Kudus bertemu dan saling memberi salam serta pujian. Baiklah kisah perjumpaan dua perempuan bersaudara ini kita jadikan permenungan atau refleksi kita.
3.1.“Mengunjungi” atau mendatangi merupakan cirikhas cara berpastoral atau merasul. Allah telah mengunjungi umatNya yang lemah dan berdosa dengan menjadi Manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa, Ia telah mengunjungi atau mendatangi umatNya. Maria yang sering dikenal sebagai yang “mendengarkan firman Allah dan melakukannya."(Luk8:21), segera setelah mendengarkan firman Allah langsung melaksanakan firman tersebut dengan mewartakan kabar gembira serta menyambut kegembiraan, mengunjungi Elisabeth saudarinya. Marilah kita meneladan Maria dengan ‘mengunjungi’ saudara-saudari kita; jika tidak mungkin dilaksanakan secara phisik kiranya kunjungan dapat juga dilaksanakan secara spiritual yaitu dengan mendoakannya. Kerasulan Doa merupakan salah satu bentuk karya kerasulan yang harus kita laksanakan dan sebarluaskan. Doa-berdoa dapat dilaksanakan di manapun dan kapanpun juga. Menyatakan diri sebagai orang beriman atau beragama tetapi tidak pernah berdoa, rasaya perlu dipertanyakan keimanan atau kegamaan orang yang bersangkutan.
3.2.“Saling memberi salam dan pujian” merupakan cirikhas orang yang penuh Roh Kudus, orang beriman, yang percaya atau mempersembahkan diri kepada Tuhan. Dalam memberi salam ini kiranya sudah menjadi kebiasaan kita setiap hari, antara lain dengan mengucapkan ‘Selamat pagi, selamat makan, selamat siang, selamat malam, selamat tidur dst..’. Sadar dan konsekwensikah anda ketika memberi salam atau ucapan selamat tersebut kepada saudara-saudari kita? Memberi salam berarti mengharapkan dan mendoakan agar saudara-saudari yang kita beri salam bahagia, aman, damai, sejahtera dalam apa yang akan dilakukan atau dikerjakan. Sebaliknya menerima salam berarti menerima dukungan dan bantuan dari saudara-saudari yang memberi salam. Marilah kita refleksikan apa yang kita buat setiap hari dengan memberi atau menerima salam tersebut, jangan hanya basa-basi atau formalitas/liturgis melulu melainkan menjadi nyata dalam cara bertindak atau berperilaku.
Erat kaitan dengan salam adalah pujian. Yang layak memperoleh pujian adalah yang baik atau berhasil, menjadi juara, sukses. Bukankah setiap orang/manusia layak memperoleh pujian karena masing-masing adalah pribadi-pribadi yang sukses, menjadi juara? Untuk memahami hal ini marilah ‘back to basic’: setiap manusia/orang adalah buah pertemuan satu sel telor dan satu sperma, ada jutaan sperma yang berjuang untuk merebut atau memasuki sel telor dan hanya satu sperma yang berhasil, jutaan lainnya kalah. Siapa ‘yang satu’ tersebut? ‘Yang satu’ tersebut tidak lain adalah saya, setiap orang/manusia yang hidup di bumi ini. Maka untuk membantu memberi pujian kepada saudara-saudari kita marilah kita lihat dan imani apa yang baik dan berhasil dalam diri sesama kita, dengan kata lain berpedoman pada prinsip “positive thinking” terhadap sesama, saudara dan sahabat-sahabat. Saya memiliki keyakinan bahwa selama orang yang hidup, entah di manapun, pasti yang bersangkutan memiliki kebaikan-kebaikan, keunggulan, keutamaan yang layak untuk diberdayakan dan difungsikan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Memang yang menjadi tantangan kita adalah menemukan dan mengakui kebaikan-kebaikan tersebut dan kemudian membantu pemberdayaan atau pemfungsiannya sesuai dengan keadaan dan situasi demi keselamatan sesama dan dunia.
3.3.“Diberkatilah buah rahimmu”. Yang memiliki rahim adalah perempuan; di dalam rahim tumbuh dan berkembang janin/ buah kasih manusia; dari rahim lahirlah buah kasih yang didambakan oleh orang yang saling mengasihi. Agar yang sedang tumbuh dan berkembang di dalam rahim dan kemudian lahir dengan sehat secara jasmani maupun rohani, maka perempuan/ibu bersangkutan yang sedang mengandung perlu menghayati keutamaan-keutamaan hidup yang membantu pertumbuhan dan perkembangan buah kasih tersebut. Memang untuk itu tidak lepas dari penderitaan, tetapi jika harus menderita karenanya (mengandung dan melahirkan), marilah kita renungkan sabda ini: “Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia “ (Yoh16:21) . Keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai yang menghidupkan dan menggairahkan memang lahir dari penderitaan. Sabar lahir ketika orang harus antri atau menunggu lama, rendah hati dan lemah lembut lahir ketika orang dilecehkan atau direndahkan, percaya lahir ketika orang menghadapi sesuatu yang tidak jelas, samar-samar atau kurang enak dst… Keutamaan-keutamaan hidup macam apa yang dibutuhkan oleh para ibu yang sedang mengandung dan melahirkan kiranya para ibu tahu sendiri dan berpengalaman, sedangkan yang menjadi tantangan adalah bahwa keutamaan-keutamaan yang dihayati ketika mengandung dan melahirkan tersebut dibutuhkan bagi setiap manusia atau dalam bergaul dan memperlakukan sesama kita sampai mati.
Di dalam ranah bahasa Indonesia akar kata ‘rahim’ dapat menjadi kerahiman yang berarti belas kasih. Pada era perjuangan gender masa kini hemat saya yang perlu diperjuangkan adalah ‘bahasa rahim/kerahiman’ tersebut dalam kehidupan setiap hari, bukan perempuan ingin menyamai atau bahkan mengalahkan laki-laki. Dunia masa kini memang dikuasai oleh ‘bahasa laki-laki’: menyerang, keras, ingin cepat-cepat/instant, kurang perhatian/ kurang memberi hati, kurang peka dst.. Sementara ‘bahasa perempuan yang memiliki rahim’ antara lain: menerima, menumbuh-kembangkan, sabar, penuh perhatian, menarik, peka, siap menderita, ‘mendengarkan dan merenungkan apa yang terjadi’ seperti Maria. Maka hemat saya gerakan gender yang perlu digalakkan dan disebarluaskan adalah ‘bahasa rahim’ tersebut alias nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan yang menumbuh-kembangkan dan menggairahkan, menghidupkan, ‘budaya kehidupan’ bukan ‘budaya kematian’.

IV. MARIA MELAHIRKAN YESUS
“Tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin” (Luk2:6)

Dari dan melalui rahim Maria lahirlah Penyelamat Dunia, “menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan”. (Luk1:33). Yang dilahirkan sungguh menjadi pemenuhan harapan umat manusia di dunia akan keselamatan atau perdamaian. Para ibu atau perempuan, sekali lagi, kiranya lebih luas dan kaya dapat menceriterakan bagaimana pengalaman bersalin atau melahirkan anak. Bukankah untuk melahirkan anak (‘mengeluarkan anak dari rahim’) membutuhkan pengorbanan, perjuangan serta penyerahan diri penuh harapan pada penyelenggaraan ilahi?. Kelahiran Penyelamat Dunia dari atau melalui rahim Maria terjadi di tengah malam buta dalam puncak kemiskinan dan kesepian yang dialami oleh Maria. Itulah konsekwensi ‘fiat voluntas tua’.
Pengalaman kelahiran atau melahirkan ini dapat kita jadikan mawas diri bagi hidup, pelayanan serta kerasulan kita. Dari hati, otak, mulut, kaki, tangan, cara bertindak kita telah ‘lahir’ aneka pikiran dan tindakan yang terarah bagi sesama. Pertanyaannya adalah apakah pikiran dan tindakan tersebut menyelamatkan dunia seisinya, terutama sesama manusia. Agar pikiran dan cara bertindak kita sungguh dapat menyelamatkan dunia kita harus sungguh-sungguh men ‘dunia’. ‘Mendunia’ berarti ‘turun ke dunia’ agar mengenali seluk beluk duniawi yang nyata: suka duka manusia, kebutuhan-kebutuhan hidup sehari-hari, kesibukan maupun pekerjaan sehari-hari serta aneka sarana-prasarana yang membantu pekerjaan maupun kesibukan. Di mana ada bagian dunia atau sarana-prasarana yang tidak selamat, kita dipanggil untuk menyelamatkannya; dimana ada manusia tidak selamat alias miskin dan berkekurangan (kurang pandai, kurang sehat, kurang sosial, kurang beriman dst..) kita dipanggil untuk menyelamatkannya. Ingat dan waspdalah bahwa semakin mendunia orang harus semakin beriman dan percaya kepada Tuhan; mendunia tanpa iman akan menghasilkan akibat atau buah-buah yang amburadul atau berantakan.
Mengurus dunia yang paling nampak dan mungkin menantang masa kini adalah masalah keuangan, mengingat masih maraknya korupsi di Negara kita yang tercinta ini. Jika orang mengurus uang yang kelihatan saja tidak beres apalagi mengurus yang tidak kelihatan, hal-hal yang transcendent. Pengurusan uang atau harta benda adalah benteng dan ibu hidup beriman; jika pengurusan uang atau harta benda tidak beres, maka dengan mudah dapat dikatakan bahwa orang yang bersangkutan pasti imannya tidak beres. Dalam hal pengurusan uang atau harta benda ini hendaknya berpdoman pada prinsip ‘ad intention dantis’ (= maksud pemberi). Maksud pemberi harus diindahkan atau dilaksanakan: jika orang memberi uang kepada saya untuk membangun rumah maka seluruh uang yang saya terima harus dimanfaatkan untuk membangun rumah dst…
Pertanyaan refleksi untuk kita semua antara lain: apakah yang keluar dari kita, berita tentang kita, yang kita omongkan dan kerjakan sungguh menyelamatkan, mensejahterakan, membahagiakan sesama, terutama yang miskin dan berkekurangan? Kita adalah murid-murid atau pengikut-pengikut Penyelamat Dunia, selayaknya ‘cara bertindak’ kita menyelamatkan dunia. “Hendaklah kaum awam dengan kerjsa sama yang erat menyehatkan lembaga-lembaga dan kondisi-kondisi masyarakat, bila ada yang merangsang untuk berdosa. Maksudnnya supaya itu semua disesuaikan dengan norma-norma keadilan, dan menunjang pengamalan keutamaan-keutamaan, bukan malahan merintanginya” (Vatikan II: LG no 36).

V. MARIA MENYIMPAN SEMUA ITU DI DALAM HATINYA.

“Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19)

Demikian berita yang diwartakan oleh penginjil Lukas tentang Maria ketika ia mendengarkan sesuatu yang kurang jelas baginya. Berita yang demikian ini juga dapat dibaca dalam kisah yang lain yaitu ketika Yesus berumur 12 tahun tinggal di Bait Allah dan dicari-cari oleh Maria bersama Yosep dan ketika bertemu Yesus berkata: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" (Luk2:49). Ketika seorang ibu memperoleh jawaban dari anaknya semacam itu kiranya sang ibu akan marah-marah kepada anaknya, tetapi sekali lagi Maria “menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya”
Menyimpan sesuatu yang kurang jelas di dalam hati tidak berarti menjadi beban yang kemudian meluap ke luar menjadi issue-issue atau gosip-gosip sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan orang masa kini, melainkan menempatkan yang tidak atau kurang jelas tersebut menjadi bahan doa atau permenungan, yang tidak jelas dimeditasikan atau dikomtemplasikan. Bukankah hal ini merupakan sikap hidup ‘pahlawan karya penyelamatan’?. Jauhkan dan berantas aneka gosip, issue atau ‘ngrumpi’ tentang segala sesuatu yang belum atau tidak jelas serta berusaha dengan berbagai cara serta doa untuk mencari pencerahan atau penjelasan atas apa yang kurang atau belum jelas. Aneka bentuk gosip, isssue, ‘ngrumpi’ pada umumnya cenderung untuk melecehkan atau merendahkan yang lain atau sesama dan hemat saya hal itu merupakan pelanggaran hak asasi manusia.
Untuk membantu usaha pencarian penjelasan atau pencerahan, secara pribadi kiranya dapat dilaksanakan kebiasaan ‘pemeriksaan batin atau pemeriksaan hati’ setiap hari. Dalam hal batin atau hati rasanya perempuan lebih mampu mengenali dan meresapi dari pada laki-laki. Ingat bahwa pemeriksaan batin atau hati merupakan bagian dari Doa Malam alias Doa Harian, maka selayaknya dilakukan setiap hari. Pemeriksaan batin bukan atau tidak sama dengan pemeriksaan dosa; di dalam pemeriksaan batin kita mau mengenali kecenderungan hati atau batin kita lebih ke arah yang baik dan yang jahat. Jika kita mahir dalam pemeriksaan batin, yang dilakukan setiap hari , kiranya kita akan mahir dalam berrefleksi atau melakukan aneka bentuk analisa, misalnya analisa SWOT atau KEKEPAN ( Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threatnesses atau KEkuatan, KElemahan, Peluang, ANcaman). Keterampilan atau kemahiran dalam berrefleksi atau beranalisa akan membantu kita menjadi cermat, teliti dan lebih tepat memandang serta menyikapi apa-apa yang sering kurang atau tidak jelas penampilan atau penyingkapannya.

VI. PERAN MARIA DALAM MEMBESARKAN YESUS
“Ia tetap hidup dalam asuhan mereka….Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Luk2:51-52)

Yesus diasuh oleh Maria dan Yosep, dan dalam asuhan Keluarga Kudus di Nasareth Ia “makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia”. Dari pengalaman dan pengamatan dalam hal hidup berkeluarga kiranya peran ibu sangat dominan dalam pengasuhan terhadap anak-anaknya; demikianlah halnya dengan apa yang terjadi di dalam Keluarga Kudus Nasareth, kiranya Maria yang mengandung dan melahirkanNya lebih dominan dalam pengasuhan Anaknya. “Selama masa kehidupan tersembunyi di rumah Nasareth, kehidupan Maria pun ‘tersembunyi bersama Kristus dalam Allah’ (bdk Kols 3:3) berkat iman. Karena iman adalah hubungan dengan misteri Allah. Setiap hari Maria ada dalam keadaan selalu berhubungan dengan misteri Allah menjadi manusia, suatu misteri yang tak terperi, yang melampaui misteri yang pernah diwahyukan dalam Perjanjian Lama”(Yohanes Paulus II: Ensiklik ‘Redemptoris Mater’, 25 Maret 1987 no 17). Maka bercermin dari pengalaman Maria maupun para ibu keluarga, marilah khususnya para ibu mawas diri dalam hal pengasuhan anak-anak.
Bahwa anak bertambah besar tubuhnya dalam asuhan orangtua kiranya tidak dapat diragukan, namun apakah anak-anak semakin berhikmat dan dengan demikian semakin dikasihi oleh Allah maupun sesama layak dipertanyakan. mengingat masih begitu maraknya kenakalan, tawuran anak-anak maupun pelajar, serta pergaulan bebas yang berdampak pada kehamilan di antara para remaja atau muda-mudi. Maka tantangan pengasuhan anak masa kini cukup berat. Hendaknya pengasuhan anak-anak meliputi berbagai kecerdasan yaitu: kecerdasan phisik, kecerdasan sosial, kecerdasan intelelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
Kecerdasan phisik tidak lain adalah kesehatan phisik atau tubuh yang tahan atau tabah terhadap aneka serangan virus atau penyakit, sehingga tidak jatuh sakit. Kecerdasan sosial berarti orang yang bersangkutan dapat bergaul dengan siapapun tanpa membedakan SARA, usia, pengalaman, kepandaian, jabatan maupun kedudukan. Kecerdasan intelektual (IQ) adalah kecerdasan yang digunakan untuk memecahkan masalah logika maupun strategis. Kecerdasan emosional (EQ) memberi kita kesadaran mengenai perasaan milik diri sendiri dan juga perasaan milik orang lain; memberi kita rasa empati, cinta, motivasi dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan atau kegembiraan secara tepat. Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.(lihat/bdk: Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ, Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, Mizan, Bandung 2001). Rasanya jika kecerdasan-kecerdasan ini dimiliki oleh anak, maka ia akan makin dikasihi oleh Allah dan sesamanya.
Dalam rangka pengasuhan atau pendidikan anak hemat saya keteladanan atau kesaksian hidup merupakan cara yang paling utama dan pertama-tama harus dilakukan oleh para orangtua. Tentu saja keteladanan atau kesaksian akan aneka kecerdasan tersebut di atas, yang menjadi nyata dalam diri orangtua yang ’makin dikasihi oleh Allah dan sesama’. Krisis keteladanan atau kesaksian rasanya merupakan bentuk krisis moral yang berkepanjangan atau masih marak dalam kehidupan bersama masa kini. Maka kami berharap terhadap para orangtua, bapak-ibu, agar dapat menjadi teladan dalam hal kecerdasan-kecerdasan tersebut di atas.

VI. VIA DOLOROSA : JALAN SENGSARA MENUJU KEMULIAAN
“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena” (Yoh19:25)
Penderitaan Maria tidak hanya terjadi ketika ia harus melahirkan Yesus di kandang hewan, malam sunyi sepi yang dingin, dalam puncak kesepian, tetapi ia juga menyertai dan menyaksikan Yesus yang menderita serta wafat di kayu salib. Jalan penyelamatan memang jalan salib dan siapapun yang bersedia berpartisipasi dalam karya penyelamatann harus berani menelusuri jalan salib, penderitaan yang berpuncak pada Salib atau penyerahan diri secara total kepada Allah dan dunia/sesama manusia. Jika kita mengakui dan mengimani Yesus serta meneladan Maria memang kita harus menempuh Jalan Salib.
Dalam hal mengikuti Yesus serta meneladan Maria ini, Santo Ignatius Loyola di dalam buku Latihan Rohani-nya antara lain menulis: “Mereka, yang mau lebih mencintai dan menjadi unggul dalam segala hal yang bersangkutan dengan pengabdian kepada Raja abadi dan Tuhan semesta, tidak hanya akan mempersembahkan diri seutuhnya untuk untuk berjuang, tetapi lebih lanjut bertindak melawan hawa nafsu, cinta kedagingan dan duniawi dalam dirinya, memberi persembahan yang lebih luhur dan lebih berharga dengan mengucap demikian ‘O Tuhan, semesta abadi, dengan karunia dan pertolonganMU, kuhaturkan persembahanku di hadapan KebaikanMu yang tak terhingga, di hadapan BundaMu teramat mulia dan sekalian Santo-Santa istana surga, aku berkehendak, berhasrat dan bertekad bulat, salah menjadi lebih besarnya pengabdian dan pujian bagiMu, akan meneladan Engkau menanggung segala kelaliman, segala penghinaan dan segala kemiskinan baik lahir maupun batin, bila KeagunganMu yang Mahakudus berkenan memilih dan menerima diriku untuk hidup sedemikian itu” (LR St.Ignatius Loyola nno 97-98).
Melawan hawa nafsu, cinta kedagingan dan duniawi pada masa kini kiranya sungguh merupakan bentuk penghayatan iman akan Yang Tersalib. Orang yang bernafsu besar sering disebut ‘gila’/kegila-gilaan, maka nafsu terhadap kedagingan dan duniawi dapat berkembang menjadi ‘gila kenikmatan seksual, gila harta, gila pangkat/kedudukan/jabatan dan gila hormat’. Jika tiada atau berkurang kenikmatan seksual, harta, pangkat/kedudukan/jabatan dan homat-nya, maka tinggal ‘gila’nya. Dan kiranya telah banyak orang menjadi ‘gila’ karena kehilangan kesikmatan seksual, harta, pangkat/kedudukan/jabatan dan kehormatan.
Berlawanan dengan gila kedagingan dan duniawi adalah ‘gila akan Salib’, persembahan diri seutuhnya kepada Allah dan dunia/sesama. Persembahan ini kiranya secara konkret dapat kita wujudkan dalam mengerahkan daya dan tenaga, harta, keterampilan, kesemapatan dan kemungkinan untuk memberantas atau memberangus mereka yang ‘gila seks, harta, pangkat/kedudukan/jabatan dan hormat’. Rasanya gerakan macam ini pada masa kini sungguh merupakan ‘jalan Salib’, kita berdiri di dekat kaki salib Yesus.
Cukup menarik dan mengesan bagi saya bahwa mereka yang setia berdiri di kaki salib Yesus adalah para perempuan bukan laki-laki, mereka yang sering dinilai lemah dalam kehidupan biasa/normal di masyarakat. Memang begitulah yang terjadi atau berlaku dalam hukum kehidupan nyata di masyarakat pada umumnya: dalam keadaan normal atau pesta pada umumnya yang tampil adalah mereka yang berkedudukan, tokoh, petinggi, orang penting dst.., sementara itu jika pada saat-saat genting atau harus menghadapi tugas pekerjaan yang membahayakan maka yang harus tampil dan maju adalah mereka yang dinilai lemah antara lain: rakyat, orang miskin, para perempuan dst.. Dengan demikian dapat kita yakini hukum kehidupan yaitu kelemahan sekaligus dapat menjadi kekuatan dan sebaliknya. Dan jika kita jujur rasanya kita semua adalah orang-orang yang lemah dan rapuh, maka marilah kita malu mengakui dan menghayati kelemahan dan kerapuhan kita, dan dengan demikian kita juga akan dapat berseru seperti Paulus “Justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.”(1Kor12:22), atau “Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku” (2Kor11:30).

VI. MARIA MENJADI SAKSI IMAN ATAS PERISTIWA KEBANGKITAN
“Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus” (Kis1:14)
Jam-jam dan hari-hari setelah Yesus disalibkan adalah saat-saat yang genting dan penuh tantangan serta kekhawatiran yang terjadi dalam diri para rasul atau murid-murid Yesus. Dalam suasana macam itu mereka berkumpul bersama, ‘bertekun dengan sehati dalam doa bersama dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus’. Pengalaman ini kiranya baik menjadi permenungan dan refleksi kita.
Jika kita cermati situasi masa kini rasanya para pejuang-pejuang kebenaran, keadilan, kejujuran dll..sungguh mengalami atau menghadapi tantangan dan tekanan yang berat dari pihak-pihak tertentu, sebagaimana pernah terjadi dalam diri Munir maupun Policarpus yang konon hanya menjadi ‘wayang’ dalam kasus Munir. Mereka butuh dukungan, perlu didoakan serta sejauh mungkin ditemani. Maka meneladan Maria serta perempuan-perempuan lain yang menemani para rasul, marilah kita menemani para pejuang kebenaran, keadilan dan kejujuran entah dengan doa-doa, harta/uang maupun tenaga.
Kerasulan doa merupakan salah satu bentuk kerasulan yang kurang memperoleh perhatian pada masa kini, mungkin karena banyak orang sudah tidak berdoa atau lupa berdoa. Sekali lagi rasanya perempuan lebih pendoa daripada laki-laki dan juga lebih tahan menghadapi tantangan daripada laki-laki. Marilah kita tingkatkan dan kembangkan ‘kerasulan doa’ di antara kita, bagi anak-anak atau penerus-penerus kita.
Doa
Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian,jadikanlah aku pembawa cintakasih
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah ku pembawa kepastian
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita
(St.Fransiskus Assisi)

1 Comment
  1. Anonim Said,

    background jangan warna hitam, susah dibaca dan menjadi tidak menarik

    Posted on 8 April 2010 09.31

     

Posting Komentar